
Bagi penulis, naskah buku pertamanya yang sudah selesai itu seperti kelahiran seorang anak yang selama ini dinanti-nantikan. Lalu ketika ingin diterbitkan atau diperkenalkan kepada dunia luar, ketakutan ditolak penerbit, tidak disukai pembaca, dan tidak laku di pasaran sering kali membayangi benak penulis.
Merasakan ketakutan-ketakutan tersebut wajar, apalagi kalau kamu pernah memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan. Misalnya tulisan kamu dikritik orang terdekat atau mendengar pengalaman penulis lain yang tidak mengenakkan soal menerbitkan buku. Inilah kenapa kamu perlu tahu bagaimana cara membangun mental penulis tangguh sebelum menerbitkan buku pertamamu.
Daftar isi
Toggle10 Cara Membangun Mental Penulis Tangguh Sebelum Menerbitkan Buku Pertama
Sebab, menerbitkan buku bukan hanya tentang mengirimkan draft naskah ke penerbit, lalu naskah bisa langsung diproses dan naik cetak. Naskah masih harus melalui proses seleksi dan editing ketat agar benar-benar layak terbit dan disambut positif oleh pembaca. Lalu, bagaimana cara membangun mental penulis tangguh sebelum menerbitkan buku pertamanya? Berikut jawabannya!
Artikel yang sesuai:
Tantangan Mental Terbesar Penulis Pemula Sebelum Buku Pertamanya Terbit
Tantangan terbesar penulis dalam menerbitkan buku sering kali bukan pada proses penulisan naskahnya, melainkan menghadapi isi kepalanya yang berisik. Inilah enam tantangan mental terbesar penulis pemula sebelum buku pertamanya terbit:
1. Takut ditolak penerbit
Tantangan mental terbesar penulis pemula dalam menerbitkan buku yang pertama adalah takut naskahnya ditolak penerbit. Padahal, penolakan tersebut adalah hal lumrah yang tidak hanya bisa dialami penulis pemula saja, melainkan juga penulis berpengalaman.
Sebab, naskah yang dikirimkan ke penerbit tidak bisa langsung diproses. Naskah harus melalui seleksi oleh editor untuk memastikannya layak terbit atau tidak, atau perlu direvisi terlebih dahulu sebelum diterbitkan.
Kemudian, penolakan juga tidak selalu berarti bahwa naskah kamu jelek. Bisa jadi, genre naskah yang kamu kirim masih belum sesuai spesialisasi dan visi misi penerbit. Misalnya, mengirimkan naskah novel di penerbit yang khusus menerbitkan buku pendidikan. Jika demikian, otomatis naskah kamu akan ditolak.
2. Takut draft naskahnya buruk
Tantangan mental lainnya yang sering dihadapi penulis pemula adalah takut draft naskahnya buruk. Hal ini sering terjadi karena ekspektasi yang salah di mana penulis mengharapkan draft naskahnya langsung sempurna pada percobaan pertama. Padahal, draft naskah yang sempurna perlu dibangun dari proses revisi berulang.
3. Takut bukunya tidak disukai pembaca atau tidak laku
Berikutnya, penulis pemula menghadapi tantangan mental lain seperti ketakutan bukunya tidak disukai pembaca dan tidak laku. Hal ini mungkin saja terjadi. Namun, dengan mengoptimalkan kualitas naskah, menyesuaikan genre naskah dengan kebutuhan pembaca, dan menerapkan strategi promosi yang tepat, risiko ini tentunya bisa dihindari.
4. Tidak siap menghadapi revisi
Selain takut karyanya tidak disukai pembaca, penulis pemula juga sering kali tidak siap menghadapi revisi, apalagi revisi skala besar saat hendak menerbitkan buku. Sebab, revisi naskah tentunya memerlukan energi, pikiran, dan waktu yang tidak sedikit. Akhirnya, kadang penulis lebih memilih tetap menyimpan naskahnya daripada harus menghadapi revisi.
5. Khawatir biaya menerbitkan buku mahal
Tantangan mental bagi penulis pemula dalam menerbitkan buku selanjutnya adalah khawatir biayanya mahal. Namun, ini tidak akan terjadi jika penulis berhasil menembus penerbit mayor karena biaya penerbitan ditanggung penerbit sepenuhnya.
Akan tetapi, seleksi naskah di penerbit mayor sangat ketat sering kali membuat penulis perlu memilih jalur penerbitan lain seperti melalui penerbit indie ataupun self publishing. Yang mana berbeda dengan penerbit mayor, biaya penerbitan kedua jalur ini ditanggung penulis sepenuhnya.
Meski begitu, penulis sebetulnya tidak perlu khawatir. Sebab, penerbit indie biasanya menawarkan paket-paket penerbitan yang bisa dipilih sesuai budget dan kebutuhan penulis. Jadi, untuk kamu yang masih khawatir biaya menerbitkan buku mahal, coba mulai sekarang cari jasa penerbitan buku murah dan profesional.
6. Bingung cara mempromosikan bukunya
Belum juga mengirimkan naskah ke penerbit tapi pikiran sudah ke mana-mana memikirkan bagaimana mempromosikan bukumu? Ya, hal ini juga menjadi salah satu tantangan mental terbesar penulis pemula sebelum menerbitkan buku pertamanya.
Jika terbit di penerbit mayor, semua-mua proses penerbitan akan dikendalikan penerbit, termasuk distribusi dan promosi buku. Begitupun jika terbit di penerbit indie, mereka biasanya juga akan membantu mempromosikan buku penulis. Namun jika terbit secara self publishing, penulis perlu memikirkannya sendiri.
Meski begitu, jangan khawatir. Selama kamu memiliki jaringan yang luas dan sosial media aktif, kamu bisa lebih mudah mempromosikan bukumu.
Bagaimana Cara Membangun Mental Penulis Tangguh Sebelum Buku Pertamanya Terbit?

Memiliki ketakutan atau kekhawatiran sebelum menerbitkan buku pertama memang wajar. Namun, perlu kamu ketahui bahwa sebetulnya setiap naskah yang sudah selesai disusun layak diterbitkan. Sebab, tim editor penerbit akan membantu menyempurnakan naskahmu agar memenuhi standar penerbitan besar.
Namun, tidak dapat dipungkiri keresahan masih saja membayangi penulis yang baru pertama kali ingin menerbitkan buku. Untuk itu, coba ikuti 10 cara membangun mental penulis tangguh sebelum menerbitkan buku pertama berikut ini:
1. Mengubah mindset dari takut ditolak menjadi strategi evaluasi
Pertama, ubah mindset dari takut ditolak penerbit menjadi strategi evaluasi. Menanamkan keyakinan bahwa penolakan adalah jalur untuk menghasilkan kualitas karya yang jauh lebih baik, akan membantu kamu tetap melangkah meskipun memiliki banyak keraguan.
Contohnya saja J.K Rowling, penulis novel Harry Potter yang sampai saat ini masih populer dan bahkan sudah difilmkan. Sebelumnya, J.K Rowling juga mengalami puluhan kali penolakan oleh penerbit sebelum akhirnya novel yang ia tulis benar-benar booming.
Jadi, jangan patah semangat, ya. Penulis yang baik dan profesional tentu ingin pembaca mengakses buku berkualitas terbaik. Dengan menanamkan mindset bahwa penolakan adalah strategi evaluasi, maka kamu bisa memastikan bukumu bermanfaat bagi pembaca nantinya jika sudah terbit.
2. Berdamai dengan kritik
Kritik adalah bumbu-bumbu yang mewarnai karya penulis. Tanpa adanya kritik, kamu justru tidak akan pernah tau di mana letak kekurangan karyamu. Editor yang memberikan banyak revisi berarti menunjukkan kepeduliannya terhadap kualitas karyamu agar semakin menarik di mata pembaca.
Tidak hanya editor, kritik juga sering kali datang dari pembaca setelah karyamu terbit. Jika ada kritikan membangun, maka jadikan evaluasi. Sebaliknya, jika kritik tersebut cenderung merusak mentalmu, maka abaikan saja. Sadari bahwa sejatinya kita memang tidak bisa menciptakan karya yang disukai semua pembaca.
3. Hindari perfeksionisme berlebihan
Cara membangun mental penulis tangguh selanjutnya adalah menghindari perfeksionisme berlebihan. Draft yang berantakan itu wajar. Menunggunya sempurna 100% justru membuat proses penerbitan bukumu tidak akan pernah terjadi.
Tugas kamu adalah menulis sebaik mungkin. Setelah itu, serahkan urusan penerbitannya ke pihak penerbit terpercaya untuk membantu seluruh tahap penerbitan. Mulai dari editing naskah, pembuatan desain cover, layout, hingga mendistribusikan dan mempromosikan bukumu.
4. Bangun sistem dukungan yang kuat
Motivasi menulis sering kali mudah turun karena kamu kurang mendapatkan dukungan dari sekitar. Oleh karenanya, cobalah bergabung dengan komunitas penulis untuk membantumu meringankan beban mental dan memperkuat support system.
Di dalam komunitas penulis, kamu bisa saling berdiskusi dan berbagi pengalaman, ilmu, atau keresahan seputar perjalananmu di dunia kepenulisan dan penerbitan buku.
5. Pahami cara kerja penerbitan buku
Sebelum menerbitkan buku, memahami aturan penerbitan buku merupakan langkah penting agar kamu bisa mengikuti setiap proses dengan baik dan terhindar dari tekanan mental atau kekhawatiran karena pemahaman yang kurang.
Untuk itu, kamu perlu aktif melakukan riset terkait bagaimana cara kerja penerbit. Pada umumnya, setiap penerbit selalu supportif dan siap membimbing penulis dari nol. Tidak hanya penerbit dari kota-kota besar saja, penerbit dari Lamongan, Jawa Timur, misalnya Penerbit Halo Adil Sejahtera juga memberikan dukungan penerbitan menyeluruh mulai dari konsultasi naskah, editing, sampai karya penulis tercetak dalam bentuk fisik.
6. Pahami bahwa setiap buku memiliki pembacanya sendiri
Cara membangun mental penulis tangguh juga bisa dilakukan dengan memahami bahwa setiap buku memiliki pembacanya masing-masing. Dengan kata lain, kamu tidak bisa menulis karya yang ditujukan dan disukai semua pembaca. Nah dengan menerbitkan buku, kamu bisa membantu pembaca terhubung dengan karya yang tepat.
7. Pahami bahwa respon pembaca tidak bisa dikendalikan penulis
Berbeda dengan kualitas tulisanmu yang dapat dikendalikan, respon pembaca terhadap karyamu tidak. Sebab, respon mereka murni berasal dari apa yang mereka rasakan setelah membaca bukumu.
Terkadang, ada saja kekurangan yang tidak nampak di mata kamu tetapi nampak di mata pembaca, atau tidak menjadi masalah bagimu tetapi menjadi masalah bagi pembaca. Pembaca akan memberikan komentar atau respon yang beraneka ragam, baik positif maupun negatif.
Untuk itu, fokus saja pada hal-hal yang bisa kamu kontrol. Misalnya mengoptimalkan kualitas naskah dan memilih penerbit yang kredibel.
8. Pilih topik yang dikuasai
Memilih topik yang dikuasai juga termasuk langkah penting untuk membangun mental penulis tangguh. Menulis topik yang dikuasai bisa membantumu menulis dengan percaya diri dan menyusun pembahasan secara lebih akurat, mendalam, serta mengalir sehingga proses penulisan menjadi lebih mudah. Dengan demikian, rasa takut naskahmu ditolak penerbit juga akan hilang.
9. Riset sebelum mulai menulis
Melakukan riset merupakan langkah krusial yang perlu dilakukan sebelum menulis karya nonfiksi maupun fiksi. Dengan riset yang matang, kamu bisa memiliki pemahaman mendalam seputar topik yang ditulis sehingga pembaca bisa memperoleh informasi akurat. Hal ini penting untuk memperkuat kredibilitas bukumu di mata pembaca dan penerbit.
Misalnya, dalam novelmu menceritakan tokoh yang berprofesi sebagai dokter spesialis jantung. Maka, kamu perlu riset bagaimana keseharian tokoh, pengetahuan medis yang dimiliki tokoh, dan sebagainya terkait profesi dokter spesialis jantung. Riset yang kuat juga memungkinkanmu membuat karakter tokoh dan alur cerita yang lebih hidup sehingga disukai pembaca.
10. Pilih penerbit terpercaya
Karya yang sebenarnya bagus dan potensial bisa jadi nampak buruk jika kamu salah memilih penerbit. Sebab, penerbit lah yang akan menangani setiap tahap penerbitan bukumu mulai dari editing naskah, pembuatan desain cover dan layout, hingga buku dicetak dan didistribusikan.
Naskah yang tidak melalui proses editing yang baik tentu akan mengurangi kualitasnya. Padahal, kualitas naskah yang optimal ini penting untuk menarik minat pembaca. Jadi, jangan sampai kamu salah memilih penerbit, ya. Boleh memilih penerbit yang menawarkan harga murah, tetapi tetap jangan sampai mengabaikan kualitasnya.
Tabel Perbandingan Kesiapan Mental Menerbitkan Buku di Penerbit Mayor, Indie, dan Self Publishing
Setiap jalur penerbitan buku memerlukan kesiapan mental penulis yang cukup berbeda. Dalam tabel berikut membandingkan kesiapan mental menerbitkan buku di tiga jalur, yaitu melalui penerbit mayor, indie, dan self publishing.
| Aspek mental dan kesiapan | Penerbit mayor | Penerbit indie | Self publishing |
|---|---|---|---|
| Tingkat kesabaran | Sangat tinggi. Seleksi naskah ketat dan memakan waktu lama (3-6). Selain itu, naskah juga belum tentu diterima. | Sedang. Proses kurasi lebih cepat, tidak begitu ketat, dan rata-rata naskah langsung diterima selagi tidak mengandung unsur SARA. | Rendah. Seluruh tahap penerbitan ditangani penulis. |
| Promosi | Rendah. Ada kolaborasi antara penerbit dan penulis. | Cukup tinggi. Penulis tetap perlu aktif mencari pembaca sendiri. | Sangat tinggi. Penulis juga berperan sebagai marketer bukunya sendiri. |
| Menghadapi kritik dan evaluasi | Penulis perlu memiliki mental kuat karena naskahnya akan dirombak demi memenuhi kebutuhan pasar | Tantangan mental cukup rendah karena editor penerbit indie fokus mengoreksi ejaan tanpa merombak isi naskah | Penulis perlu menjadi editor naskahnya sendiri atau meminta bantuan jasa editor naskah |
| Kebebasan berkreasi | Terbatas, ditentukan sesuai kebijakan penerbit | Fleksibel, penulis ikut dilibatkan | Mutlak, penulis bebas menentukan segalanya sendiri |
| Risiko finansial | Nol karena biaya penerbitan gratis | Risiko terukur karena biaya penerbitan tergantung paket yang dipilih | Risiko penuh karena 100% biaya ditanggung penulis |
Itulah 10 cara membangun mental penulis tangguh sebelum menerbitkan buku pertama. Jika kamu penulis pemula yang masih ragu untuk menerbitan buku pertamamu, langkah-langkah di atas bisa dicoba agar kamu lebih berani dan yakin mengirimkan naskahmu ke penerbit.
FAQ Seputar Cara Membangun Mental Penulis Tangguh
Inilah pertanyaan-pertanyaan yang sering penulis pemula ajukan terkait cara membangun mental penulis tangguh sebelum menerbitkan buku pertama:
1. Kenapa penulis sering merasa takut menerbitkan buku?
Penulis sering takut menerbitkan buku karena khawatir ditolak penerbit, bukunya tidak laku atau tidak disukai pembaca, biaya penerbitan mahal, hasil penjualan tidak menutup modal, mendapatkan banyak revisi, dan bingung cara mempromosikannya.
2. Bagaimana jika buku pertama penulis sepi peminat?
Buku pertama yang sepi peminat bukanlah penanda kegagalan mutlak, melainkan bahan evaluasi agar kamu mempersiapkan strategi penulisan dan promosi yang lebih matang. Kamu juga bisa menjadikan buku pertamamu sebagai media pembelajaran dan portofolio berharga.
3. Bagaimana cara membangun mental agar berani menerbitkan buku?
Agar berani menerbitkan buku, kamu bisa menanamkan mindset bahwa setiap buku memiliki pembaca sendiri, respon pembaca tidak bisa kamu kontrol, memahami cara kerja penerbitan buku, menulis topik yang disukai, riset sebelum menulis, hingga memilih penerbit terpercaya.
4. Apakah menerbitkan buku membutuhkan modal besar?
Tidak. Saat ini, banyak penerbit menawarkan biaya penerbitan yang ekonomis mulai dari ratusan ribu saja agar dapat dijangkau penulis pemula yang memiliki anggaran terbatas.





