6 Cara Mengatasi Rasa Takut Penulis ketika Menerbitkan Buku

8 Cara Mengatasi Rasa Takut Penulis ketika Menerbitkan Buku

Sebagai penulis, kita tidak memungkiri bahwa menerbitkan buku merupakan pengalaman yang menantang sekaligus menyenangkan. Rasa takut akan kegagalan sering kali menghantui pikiran kita, membuat kita ragu untuk melangkah lebih jauh.

Rasa takut ini dapat berasal dari berbagai sumber, seperti takut akan kritik, takut tidak diterima oleh pembaca, atau takut karya kita tidak sukses. Namun, perlu diingat bahwa rasa takut ini adalah hal yang normal dan dapat diatasi.

6 Cara Mengatasi Rasa Takut Penulis ketika Menerbitkan Buku

Melalui artikel ini, kita akan mencari tahu apa saja cara yang bisa kita terapkan untuk mengatasi rasa takut ketika menerbitkan buku. Harapannya, setelah membaca tulisan ini, teman-teman dapat membangun kepercayaan diri untuk membagikan karya kepada dunia. Tidak perlu menunggu lebih lama lagi, mari kita simak berbagai tips di bawah ini:

1. Mengubah Pandangan Perihal Penolakan & Kritikan

Cara mengatasi rasa takut yang penulis alami ketika menerbitkan buku yaitu mengubah persepsi mengenai penolakan dan kritikan. Kita harus selalu mengingat bahwa penolakan dari penerbit bukan berarti tulisan kita jelek atau tidak layak baca. Terkadang, hal ini merupakan sebuah tanda bahwa naskah kita belum bertemu dengan penerbit yang tepat.

Samal halnya dengan kritikan, kita tidak perlu merasa terpojok saat menerima komentar atau penilaian pedas. Bagi penulis pemula, kritik terasa sangat menakutkan bagaikan ancaman sekaligus serangan pribadi yang subjektif. Namun, di lain sisi, kritik dapat menjadi cermin yang membantu kita melihat bagian mana dari naskah yang masih perlu diperbaiki.

Kesimpulannya, kita harus bisa mengubah perspektif atau cara pandang kita menjadi lebih positif. Ibaratkan penolakan dan kritikan sebagai bahan evaluasi yang membantu kita meningkatkan kemampuan serta kualitas tulisan ke depannya. Dengan pola pikir seperti ini, ketakutan akan mulai menghilang dan kita akan jauh lebih siap untuk mempersembahkan buku pertama ke hadapan publik.

2. Memahami Bahwa Tidak Ada Buku yang Ideal/Sempurna

Cara mengatasi rasa takut penulis perihal menerbitkan buku yang kedua adalah mampu memahami bahwa tidak ada satu pun buku di dunia ini yang benar-benar sempurna, pasti setiap buku memiliki kekurangan. Entah itu dari aspek penulisan, struktur bahasa, informasi yang kurang tepat, pengembangan cerita, hingga penyajian konflik.

Mengejar kesempurnaan naskah justru menjadi jebakan yang siap mengintai penulis pemula. Bila terus menunggu sampai naskah kita tidak bercela, buku tersebut tidak akan sampai ke tangan pembaca potensial.

Terlebih jika ini merupakan buku pertama, sangat wajar naskah kita masih banyak kekurangan. Jangan jadikan cela tersebut sebagai beban yang berat, melainkan sebagai pelajaran yang berharga untuk karier kita di masa depan. Berbagai kesalahan yang kita temukan sekarang dapat menjadikan kita penulis yang jauh lebih mumpuni dan berbakat di proyek selanjutnya.

Maka, jadikan momen menerbitkan buku pertama ini sebagai wadah untuk belajar dan berkembang. Kita tidak perlu membuktikan pada dunia bahwa kita adalah penulis yang hebat tanpa kesalahan dan kekurangan. Fokuslah pada prosesnya, karena pengalaman nyata jauh lebih penting daripada sekadar mengejar fatamorgana.

3. Harus Memahami Proses Penerbitan Naskah

Banyak penulis yang merasa takut karena mereka belum mengetahui secara pasti bagaimana cara sebuah buku sampai ke tangan pembaca. Rasa bingung mengenai apa yang harus dilakukan setelah naskah rampung sering kali membuat kita menunda-nunda. Padahal, ketakutan ini bisa luntur dengan sendirinya apabila kita mulai mempelajari langkah-langkah dasar dalam industri penerbitan.

Kita perlu memahami tahapan penerbitan buku, mulai dari menyunting naskah (editing), membuat desain sampul, menata layout, hingga cara buku tersebut dicetak dan didistribusikan. Dengan mendalami alur ini, kita dapat memperkirakan berapa lama waktu yang dibutuhkan dan memantau perkembangan naskah dengan tenang. Sederhananya, kita tidak akan lagi merasa “buta” sebab sudah mengetahui apa yang sedang tim penerbit kerjakan.

Selain itu, sebagai penulis kita juga perlu mengenali jenis-jenis penerbit yang ada di Indonesia, seperti penerbit mayor (konvensional), indie, dan self-publishing (mandiri). Setiap jenis penerbitan memiliki keunggulan dan kekurangan yang berbeda-beda tergantung pada kebutuhan.

Jika kita sudah melakukan riset dan memilih penerbit yang paling pas dengan tujuan yang ingin dicapai, kita akan merasa lebih percaya diri dan berani untuk segera mempublikasikan karya pertama.

4. Berorientasi pada Proses bukan Hasil Akhir

8 Cara Mengatasi Rasa Takut Penulis ketika Menerbitkan Buku

Tips selanjutnya untuk mengatasi rasa takut saat menerbitkan buku adalah dengan berhenti terlalu memikirkan hasil akhir. Sering kali, kita merasa gugup dan khawatir karena terlalu fokus membayangkan apakah buku kita akan laku atau disukai orang. Terlalu banyak mencemaskan hal-hal yang belum terjadi hanya akan membuatmu ragu untuk melangkah dan berkembang.

Sebagai penggiat literasi yang ingin mendorong minat baca, penulis harus memahami bahwa kesuksesan sebuah buku bukan satu-satunya faktor yang menentukan kualitasnya. Menulis adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh dengan tantangan dan pengalaman.

Apabila kita hanya mengejar hasil dan tidak menikmati prosesnya, maka kita akan cepat stres. Namun, bila kita menghargai setiap rangkaian prosesnya, menulis aktivitas menulis akan terasa jauh lebih menyenangkan.

Oleh karena itu, kita harus mampu meresapi setiap detik saat merangkai kata demi kata tanpa perlu merasa terbebani oleh bayang-bayang hari esok. Setiap kemajuan kecil yang kita hasilkan setiap harinya perlu kita hargai dan syukuri.

5. Mengikuti Komunitas Menulis

Rasa takut untuk menerbitkan buku sering kali muncul karena kita merasa sedang berjuang sendirian. Tanpa adanya teman yang memiliki kegemaran atau tujuan yang sama, langkah ini pasti terkesan jauh lebih berat sekaligus melelahkan. Saat mulai menemukan hambatan di tengah proses menulis, kita juga merasa bingung harus bertanya kepada siapa.

Agar masalah ini tidak berlarut-larut, kita dapat bergabung ke dalam komunitas menulis. Di sana, kita bisa bertemu dengan banyak orang yang memiliki impian serupa, bahkan banyak penulis yang sudah berpengalaman. Dengan adanya dukungan, motivasi, dan informasi penting dari mereka, kita akan lebih termotivasi dan tidak merasa sendirian lagi.

Di samping dukungan mental, komunitas juga bisa menjadi wadah yang tepat untuk memperoleh saran, kritikan, dan nasihat yang bermanfaat bagi karya kita. Berbagai sudut pandang baru tersebut kita jadikan acuan untuk memperbaiki naskah sebelum mengirimkannya ke penerbit.

6. Bangun Kepercayaan Diri dan Pantang Menyerah

Cara menghadapi rasa takut yang timbul dalam diri penulis saat menerbitkan buku yang terakhir adalah membangun rasa percaya diri dan ketekunan. Ingatlah kembali tujuan awal kita menulis, apakah itu untuk berbagi ilmu, pengalaman, atau sekadar membantu orang lain. Hal ini bisa menjadi pegangan utama agar kita tidak lagi merasa khawatir dengan komentar-komentar negatif yang akan muncul.

Kesuksesan tidak datang secara instan, bahkan penulis terkenal sekalipun pernah mengalami penolakan, hujatan, dan cemoohan. Oleh karena itu, kita harus memiliki sikap pantang menyerah karena penolakan atau kesalahan yang kita buat dapat menjadi pemacu untuk kita belajar lebih giat lagi.

Nah, itulah penjelasan mengenai berbagai cara atau tips yang dapat kita terapkan ketika rasa takut untuk menerbitkan buku melanda. Semoga setelah membaca artikel ini, kita akan lebih yakin dan berani menghadapi setiap tantangan, ya!

Supaya pengalaman pertama menerbitkan buku terasa tenang dan menyenangkan, sebaiknya pilihlah jasa penerbitan buku yang profesional dan tepercaya untuk mendampingi kita. Dengan bantuan tim profesional serta panduan yang jelas dan terarah, kita tidak perlu lagi merasa bingung atau takut, sehingga kita dapat lebih percaya diri untuk mempublikasikan naskah yang kita miliki. Selamat berkarya!

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn