7 Kebiasaan Buruk saat Menulis Cerita Fiksi yang Perlu Dihindari

7 Kebiasaan Buruk saat Menulis Cerita Fiksi yang Perlu Dihindari

Menulis cerita fiksi yang menarik, tidak hanya membutuhkan imajinasi yang luar biasa atau ide keren. Banyak penulis yang gagal meraih kesuksesan karena berbagai kebiasaan buruk yang tidak mereka sadari saat proses membuat karya.

Memahami berbagai perilaku kurang baik tersebut merupakan langkah penting untuk meningkatkan kualitas cerita fiksi yang diciptakan. Selain itu, kita juga bisa membuat pembaca semakin penasaran dengan kisah yang tersaji.

7 Kebiasaan Buruk saat Menulis Cerita Fiksi yang Perlu Dihindari

Melalui artikel ini, kita akan mengupas tujuh kebiasaan buruk saat menulis cerita fiksi yang perlu dihindari atau dihilangkan. Harapannya, setelah membaca informasi ini, teman-teman dapat mengasah keterampilan menulis dengan lebih baik dan menyajikan cerita yang berkesan di hati pembaca. Agar semakin paham, yuk kita ikuti pembahasannya di bawah ini:

Apa itu Cerita Fiksi?

Cerita fiksi dapat diartikan sebagai cerita rekaan atau karangan hasil imajinasi penulis yang tidak terbatas pada situasi di dunia nyata saja. Dengan kreativitasnya, penulis bisa membangun dunia, tokoh, karakter, sampai peristiwa unik yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Walaupun demikian, cerita fiksi kerap kali mengangkat tema atau konflik kehidupan sehari-hari yang familiar dengan pembaca. Dengan begitu, pembaca masih dapat terhubung dan menemukan makna atau pesan tersirat di balik sebuah kisah.

Selain menyajikan cerita yang menyentuh, karya fiksi juga mengajak pembaca untuk mengeksplorasi berbagai petualangan baru lewat berbagai karakter yang memukau, misalnya pahlawan super. Selain sebagai hiburan yang menyenangkan, hal ini menjadikan cerita fiksi sarana untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan.

Apa Ciri-Ciri Cerita Fiksi?

Adapun ciri-ciri atau karakteristik cerita fiksi adalah:

  1. Lahir dari kreativitas dan imajinasi penulis (tidak nyata);
  2. Terdapat alur cerita;
  3. Mengandung pesan moral atau nilai tertentu;
  4. Disajikan dalam bentuk novel, cerpen, atau komik;
  5. Bertujuan untuk menghibur dan membangkitkan emosi pembaca.

Apa Jenis-Jenis Cerita Fiksi?

Di bawah ini adalah tabel yang berisi penjelasan singkat mengenai beberapa genre atau jenis cerita fiksi.

Jenis 

Genre/Tema

Karakteristik

Novel
  • Romansa
  • Persahabatan
  • Perjuangan
  • Sosial
  • Politik
  • Fantasi
  • Psikologi
  • Horor
  • Misteri
  • Cerita fiksi panjang hingga ratusan/ribuan halaman dan terbagi dalam beberapa bab.
  • Alur cerita yang kompleks, rinci, dan mendalam.
  • Memiliki banyak tokoh dengan beragam karakter dan sifat.
  • Perpaduan antara imajinasi dan kenyataan.
Cerpen
  • Percintaan
  • Persahabatan
  • Horor
  • Aksi
  • Komedi
  • Singkat dan padat (di bawah 10.000 kata).
  • Fokus pada satu peristiwa inti tanpa basa-basi.
  • Jumlah tokoh sedikit.
  • Alur tersusun rapi (perkenalan, konflik, penyelesaian).
Dongeng
  • Fantasi
  • Cerita Rakyat
  • Mitos/Tradisi
  • Bertujuan menghibur dan menyampaikan pesan moral.
  • Diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.
  • Alur bersifat bebas dan sangat imajinatif.
  • Berlatar waktu masa lalu dan lokasi tempat khayalan.
Fabel
  • Fabel/Cerita Hewan
  • Tokoh utamanya adalah hewan yang memiliki perilaku, pola pikir, dan dapat berbicara layaknya manusia.
  • Alur cerita cenderung sederhana, ringan, dan menghibur.
  • Memiliki pesan moral atau ajaran kehidupan yang jelas.

Apa Kebiasaan Buruk saat Menulis Cerita Fiksi?

7 Kebiasaan Buruk saat Menulis Cerita Fiksi yang Perlu Dihindari

Berikut adalah beberapa kebiasaan buruk ketika menulis cerita fiksi yang sebaiknya dihindari.

1. Terlalu banyak memasukkan ego atau perasaan

Memasukkan pendapat pribadi atau memamerkan wawasan secara berlebihan dapat merusak kenyamanan pembaca saat menikmati sebuah karya fiksi. Tidak seperti karya ilmiah yang diperuntukkan untuk diskusi, data serta argumen dalam cerita fiksi harus diolah secara halus untuk memperkuat alur dan karakter.

Penulis perlu menahan diri agar jalan cerita yang dibuat tidak terkesan menggurui atau mengajari pembaca. Tulisan yang baik adalah rangkaian kata yang mengedepankan kebutuhan cerita bukan ego pengarangnya. Maka dari itu, gunakan pengetahuan secara proporsional untuk cerita yang lebih alami dan fokus pada pengembangan konflik.

2. Tidak mematuhi kaidah bahasa dan ejaan yang berlaku

Mengabaikan aturan tata bahasa merupakan kesalahan fatal yang semestinya tidak dilakukan seorang penulis. Sebab, kaidah penulisan sudah diajarkan sejak sekolah, sehingga tidak ada dalih untuk memaklumi kesalahan ini terus-menerus.

Menjaga kualitas bahasa adalah salah satu cara penulis dalam menghargai karyanya sendiri. Jika merasa ragu dengan kemampuan pribadi, penulis bisa mengambil kelas online atau memanfaatkan konten edukatif di berbagai platform media sosial. Dengan begitu, tulisan kita akan semakin rapi dan terlihat profesional.

3. Tidak mendengar kritik dan saran dari pembaca

Kritik dari pembaca dapat penulis manfaatkan sebagai sarana belajar untuk meningkatkan mutu tulisan. Sebagai penulis, kita mempunyai sudut pandang terbatas, sehingga tidak dapat melihat kekurangan pada karya sendiri. Kehadiran pembaca bisa membantu kita melihat aspek-aspek yang perlu diperbaiki.

Jangan anggap kritik atau saran sebagai penghinaan, tapi bahan evaluasi dan motivasi untuk terus mengasah keterampilan menulis cerita fiksi. Oleh karena itu, kita tidak tersinggung saat menerima umpan balik yang kurang menyenangkan dari pembaca.

4. Terjebak dalam alur dan adegan yang klise

Mengangkat alur cerita yang sudah sering digunakan penulis lain membuat tulisan kita terasa monoton dan kurang menarik untuk diikuti. Jangan takut untuk berinovasi dengan mencoba sudut pandang, konsep, atau genre yang belum pernah disentuh. Salah satu cara terbaik menemukan ide-ide segar yaitu dengan memperkaya referensi dari berbagai penulis lain.

5. Menggunakan gaya bahasa yang ketinggalan zaman

Banyak penulis cerita fiksi yang mengambil ide atau gagasan dari karya-karya sastra klasik. Kita bisa saja terinspirasi, tapi meniru gaya bahasa secara mentah-mentah untuk karya modern rasanya kurang tepat.

Boleh mengusung genre populer seperti romansa, fantasi, misteri, atau sejarah, namun tulisan harus disesuaikan dengan perkembangan bahasa dan selera pembaca saat ini.

6. Membuat judul yang terlalu panjang dan dibuat-buat

Judul cerita fiksi yang terlalu panjang dan terkesan dibuat-buat justru akan menurunkan minat calon pembaca. Judul yang singkat, padat, dan merefleksikan isi cerita dinilai efektif untuk menarik perhatian. Judul yang sederhana juga lebih mudah diingat dan memberikan kesan yang elegan.

Pilih kata atau frasa yang mampu memancing rasa ingin tahu tanpa harus membocorkan seluruh isi cerita. Judul yang ringkas tapi kuat dapat menjadi daya pikat yang sempurna bagi karya fiksi yang kita tulis.

7. Penulisan cerita yang bertele-tele dan tidak fokus

Cerita fiksi yang berlarut-larut dan melenceng dari inti masalah membuat pembaca ingin meletakkan buku secepatnya. Setiap bab dan adegan yang tertulis seharusnya mendukung konflik utama tokoh. Jangan menutupi cerita utama dengan alur sampingan yang tidak begitu penting.

FAQ Seputar Kebiasaan Buruk saat Menulis Cerita Fiksi

Berikut adalah beberapa pertanyaan sekaligus jawaban yang berkaitan dengan kebiasaan buruk yang sering penulis lakukan ketika menyusun cerita fiksi.

Q1: Faktor apa saja yang membuat penulis melakukan kebiasaan buruk saat menyusun cerita fiksi?

  • Psikologis: perasaan takut salah, terlalu perfeksionis, kurang percaya diri, dan mudah terobsesi dengan ide baru.
  • Kurang menguasai teknik menulis: tidak memahami penyusunan dasar struktur cerita dan cara membangun konflik.
  • Manajemen kerja yang buruk: bergantung pada suasana hati, terlalu banyak riset, dan melakukan editing saat masih menulis draft.
  • Ekspektasi berlebihan: mengabaikan proses kreatif karena terlalu fokus pada hasil akhir.

Q2: Bagaimana cara menghilangkan kebiasaan buruk saat menulis cerita fiksi?

Adapun beberapa caranya yaitu:

  • Memisahkan proses menulis dan mengedit;
  • Disiplin menulis setiap hari;
  • Tidak perlu menunggu datangnya mood;
  • Membuat kerangka tulisan (outline) sederhana;
  • Fokus pada alur cerita utama;
  • Berani memotong adegan yang kurang penting;
  • Meminta masukan beta reader atau editor profesional.

Demikianlah penjelasan mengenai tujuh kebiasaan buruk saat menulis cerita fiksi yang sering dilakukan oleh penulis pemula maupun berpengalaman. Semoga setelah membaca artikel ini, teman-teman dapat menghindari berbagai kebiasaan tersebut dan mulai berkarya dengan hati.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn