
Bukannya tidak memiliki naskah yang sudah jadi, melainkan takut buku tidak laku menjadi alasan utama penulis terus menunda penerbitan buku pertamanya. Padahal, ada beragam strategi penjualan buku untuk penulis baru yang bisa dicoba meski minim personal branding.
Mulai dari menentukan target pembaca, membangun review dari orang-orang terdekat, memanfaatkan media sosial, sampai konsisten promosi, semuanya bisa dilakukan tanpa perlu embel-embel, “kamu ini siapa?”
Daftar isi
ToggleStrategi Penjualan Buku untuk Penulis Baru yang Minim Personal Branding
Jadi, kamu tidak harus menjadi selebgram dulu baru bisa menerbitkan buku. Punya banyak pengikut itu bonus, bukan syarat mutlak untuk berhasil menjual buku pertama kamu. Melalui artikel ini, kita akan pelajari bersama delapan strategi penjualan buku yang realistis untuk penulis baru yang minim personal branding.
Artikel yang sesuai:
Apakah Personal Branding Menentukan Penjualan Buku?
Personal branding memang bisa membantu dalam penjualan buku, namun bukan berarti menjadi satu-satunya faktor yang menentukan hasil penjualan. Hasil penjualan juga dapat dipengaruhi oleh faktor konsistensi promosi, harga buku, kualitas buku, dan strategi pemasaran yang tepat.
Seperti halnya penulis terkenal Tere Liye. Sebelum kini aktif mengkritik kebijakan pemerintah di media sosial, beliau juga awalnya tidak pernah tampil di publik dan memilih menyembunyikan identitasnya hingga bertahun-tahun.
Namun berkat keahliannya dalam menulis cerita yang menarik dan promosi yang konsisten, dirinya berhasil meraih kesuksesan. Bahkan, karya pertamanya berjudul “Hafalan Shalat Delisa” sampai diangkat ke layar kaca karena ceritanya yang menyentuh dan mengharukan.
Apa Saja Kesalahan Fatal saat Promosi Buku Pertama?
Sebelum membahas strategi penjualan buku untuk penulis baru, berikut ini beberapa kesalahan fatal dalam mempromosikan buku yang perlu kamu hindari sebagai penulis baru atau pemula:
1. Tidak mengenali target pembaca
Sebuah buku tidak bisa ditujukan untuk semua orang. Artinya, buku kamu harus punya “tujuan” atau untuk siapa buku kamu diperuntukkan. Begitu pun dengan pemilihan topik yang perlu dibuat spesifik dan relevan dengan target pembaca.
Jika buku ditujukan untuk semua orang atau tanpa karakteristik yang jelas, maka pesan yang disampaikan akan terkesan terlalu umum dan tidak mengena dengan kebutuhan pembaca.
Selain itu, semakin spesifik target pembaca, maka semakin mudah pula dalam mempromosikan buku. Kamu bisa menentukan gaya bahasa yang tepat dalam membuat konten promosi sehingga pesannya lebih tersampaikan.
2. Promosi yang tidak konsisten
Konsistensi merupakan langkah kecil, namun tidak semua penulis baru bisa melakukannya. Padahal, konsistensi bisa mengantarkan kita menuju keberhasilan.
Untuk itu, jangan pantang menyerah atau hanya berhenti promosi pada launching buku saja. Tetap konsisten posting sampai bukumu mendapatkan penjualan yang layak. Menggunakan konsep jemput bola juga patut kamu coba.
3. Hanya fokus jualan
Tidak sedikit pemula fokus berjualan buku, sementara value atau solusi yang diinginkan pembaca justru terabaikan. Padahal, value bukulah yang mendorong mereka untuk melakukan pembelian buku. Sebab, pembaca berharap ada hasil setelah membaca bukumu.
Bagaimana Strategi Penjualan Buku untuk Penulis Baru Tanpa Mengandalkan Nama Besar?

Baiklah, berikut ini delapan strategi penjualan buku untuk penulis baru yang minim personal branding:
1. Tentukan target pembaca dan topik buku yang spesifik
Pertama, tentukan dengan jelas dan spesifik siapa orang yang ingin kamu tuju untuk membaca bukumu. Langkah ini membantu memastikan value atau pesan buku benar-benar relevan dengan kebutuhan target pembaca.
Dengan begitu, gaya bahasa promosi juga bisa disesuaikan sehingga pesannya tersampaikan dengan baik kepada target pembaca. Hasilnya, mereka semakin tertarik untuk membaca bukumu lebih lanjut atau membelinya. Sebagai contoh:
Dari pada sekadar menulis buku “Cara Membangun Produktivitas” saja, kamu bisa ubah menjadi, “Cara Membangun Produktivitas Anti Gagal untuk Mahasiswa Tingkat Akhir yang Skripsian”.
2. Utamakan value, promosi kemudian
Strategi penjualan buku untuk penulis baru yang minim personal branding hendaknya mengutamakan value atau solusi yang ditawarkan bukunya terlebih dahulu, baru promosi.
Untuk itu, kamu bisa coba bergabung dengan komunitas sesuai topik buku. Lalu, lakukan interaksi secara aktif di grup. Bisa dengan rutin bertanya, berbagi tips, pengalaman, atau menjawab pertanyaan dari anggota lain untuk unjuk diri. Setelah itu, barulah kamu bisa mulai soft selling untuk memperkenalkan bukumu.
Sebagai contoh, penulis buku tentang keuangan bisa coba bergabung ke grup Facebook atau WhatsApp “Ibu-Ibu Hebat” yang mana sesuai dengan target pembaca bukunya yaitu IRT.
3. Bangun social proof
Berikutnya, bangun social proof atau bukti sosial untuk meningkatkan kepercayaan target pembaca. Tunjukkan value buku secara nyata dengan cara mencari review atau testimoni dari 5 sampai 10 orang pertama.
Kamu bisa meminta bantuan dari keluarga atau orang terdekat untuk membaca dan memberikan penilaian terhadap bukumu. Penilaian positif bisa menjadi alat promosi yang kuat.
4. Manfaatkan media sosial
Melansir wearesocial.com, jumlah identitas pengguna media sosial tumbuh 26% secara tahunan, mencapai 180 juta atau setara dengan 62,9% dari total populasi. Ini artinya, media sosial bisa menjadi ruang promosi buku yang efektif.
5. Susun strategi konten
Menyusun ide konten dari isi buku menjadi bagian penting dari strategi penjualan buku untuk penulis baru yang minim personal branding. Konten bisa menjadi senjata yang ampuh untuk membuat orang mengenali, mempercayai, dan menyukai buku yang kamu tulis. Untuk itu, kamu bisa coba terapkan langkah berikut:
- Pecah isi buku menjadi konten carousel, reels, story, atau kutipan
- Fokus membuat konten di satu atau dua platform yang paling cocok dengan target pembaca
- Gunakan hook yang memancing perhatian pembaca
- Bangun konten berseri atau berkelanjutan supaya pembaca penasaran membaca detail lengkapnya melalui bukumu
- Unggah testimoni untuk meyakinkan pembaca
- Ajak audiens berinteraksi
- Posting konten secara konsisten
6. Manfaatkan channel distribusi alternatif
Untuk bisa masuk ke toko buku besar, penulis bisanya perlu memberikan diskon, melakukan pembayaran di muka, dan ada seleksi yang ketat. Oleh karenanya agar lebih efektif, penulis bisa coba jalur distribusi alternatif berikut:
- Menjual buku di tempat yang sesuai niche buku. Misalnya, buku parenting dititip di klinik tumbuh kembang anak, buku akademik di koperasi kampus, buku bisnis di cafe, dan lain sebagainya.
- Kolaborasi dengan penulis atau influencer yang punya banyak follower
- Menjadi pembicara dalam acara webinar atau kelas gratis
- Berjualan sendiri secara offline di bazar, komunitas, atau online melalui website pribadi.
7. Berikan penawaran terbaik
Memberikan penawaran terbaik juga menjadi salah satu strategi penjualan buku untuk penulis independen yang minim personal branding. Penulis bisa coba menerapkan strategi pre-order dengan menawarkan bonus merchandise, worksheet, atau bundling 2 buku mendapatkan potongan harga.
8. Optimalkan profil sosial media
Di era digital ini, sosial media menjadi wadah yang efektif untuk meningkatkan kredibilitas penulis. Itulah kenapa mengoptimalkan profil sosial media menjadi penting supaya pembaca lebih mengenal sosok di balik buku yang mereka lihat.
Untuk itu, kamu bisa mulai dengan menggunakan foto profil profesional, menulis deskripsi yang relevan dengan buku yang kamu terbitkan, serta mencantumkan link pembelian buku di bagian deskripsi profil.
9. Konsisten
Dari keseluruhan strategi, konsisten merupakan kunci utama untuk meraih kesuksesan dalam penjualan buku. Tanpa konsistensi yang kuat, promosi buku bisa berhenti di tengah jalan.
Apa Saja Hal-hal yang Hendaknya Tidak Dilakukan saat Baru Mulai Promosi Buku?
Hal-hal berikut ini ada baiknya tidak dilakukan saat penulis baru mulai mempromosikan buku:
- Bayar iklan mahal di awal: Dapatkan data target pembaca terlebih dahulu melalui hasil riset di platform promosi yang dituju.
- Membandingkan diri dengan penulis berpengalaman: Hal ini perlu dihindari karena tentunya tidak apple to apple dan bisa membuatmu minder, bahkan sebelum buku resmi terbit.
- Menunggu sempurna baru memulai: Sejatinya, tidak ada waktu yang benar-benar tepat untuk memulai sesuatu. Menunggu siap hanya akan membuat launching buku terus tertunda. Personal branding juga bisa dibangun seiring promosi buku dilakukan.
Ceklist 30 Hari Pertama Promosi Buku untuk Penulis Baru
Berikut daftar kegiatan promosi buku yang bisa penulis baru lakukan selama 30 hari pertama:
| Waktu | Kegiatan | Tujuan |
|---|---|---|
| Minggu ke-1 | Mengumpulkan 10 review pertama, lalu posting di sosial media | Mendapatkan bukti sosial untuk meningkatkan kepercayaan target pembaca |
| Minggu ke-2 | Aktif di tiga komunitas untuk berbagi value buku, tips, pengalaman, atau menjawab pertanyaan | Membangun kepercayaan dan menjangkau lebih banyak audiens |
| Minggu ke-3 | Mengunggah konten di media sosial | Membangun kredibilitas penulis dan memperluas jangkauan promosi |
| Minggu ke-4 | Mengadakan launching, memberikan penawaran terbaik, dan kolaborasi | Meningkatkan penjualan |
FAQ Seputar Strategi Penjualan Buku untuk Penulis Baru
Di bawah ini pertanyaan-pertanyaan yang sering penulis baru ajukan tentang promosi buku:
1. Berapa budget minimal untuk promosi buku pertama?
Kamu bisa promosi dengan budget mulai dari nol rupiah. Kamu bisa fokus meraih penjualan secara organik dengan cara membuat konten, aktif di komunitas, meminta testimoni atau review dari teman-teman terdekat, atau titipkan buku ke tempat-tempat penjualan terdekat yang kamu percaya. Semua langkah ini bisa dilakukan tanpa modal materi.
Jika memiliki budget setidaknya 200-300 ribu, barulah kamu bisa coba pasang iklan di sosial media seperti Instagram atau TikTok untuk mengecek antusiasme audiens.
2. Apakah strategi ini bisa dicoba untuk buku akademik atau ilmiah?
Ya, tentu bisa. Bedanya hanya di tempat dan bahasa yang digunakan untuk promosi. Kalau buku populer lebih cocok dipasarkan di platform TikTok dan Instagram, buku akademik lebih cocok dipasarkan melalui platform LinkedIn, grup fakultas atau jurusan, perpustakaan kampus, atau acara webinar. Namun, tidak ada salahnya mencoba juga di Instagram maupun TikTok.
3. Berapa lama estimasi waktu untuk melihat hasilnya?
Kamu bisa mendapatkan hasil secara realistis yaitu 3 bulan jika promosi dilakukan secara konsisten.
4. Apakah personal branding merupakan satu-satunya faktor yang menentukan hasil penjualan buku?
Tidak. Selain personal branding, ada faktor-faktor lain seperti konsistensi promosi, kualitas, harga, dan strategi pemasaran buku juga turut memengaruhi hasil penjualan buku.
5. Apakah harus terkenal dulu baru bisa menerbitkan buku?
Tidak. Siapapun bisa menerbitkan buku walaupun minim personal branding.
6. Apakah ada penerbit yang menyediakan layanan promosi buku?
Ya, ada. Salah satunya penerbit Halo Adil Sejahtera. Kamu akan mendapatkan fasilitas poster promosi, buku diunggah di sosial media penerbit dan dipasarkan melalui marketplace, serta berbagai saluran pemasaran yang dikelola oleh penerbit.
Demikian, berbagai strategi penjualan buku untuk penulis baru yang minim personal branding. Dengan menentukan target pembaca secara jelas dan spesifik, memanfaatkan sosial media, membangun bukti sosial, menyusun strategi konten, hingga menjaga konsistensi promosi, kamu tetap memiliki peluang sukses meskipun minim personal branding.





