
Dalam membuat puisi atau karya sastra lainnya, salah satu unsur yang tidak boleh kamu lupakan adalah gaya bahasa atau majas. Penggunaan majas mampu membuat karya sastra menjadi lebih indah, menarik, dan kaya makna.
Majas untuk puisi, cerpen, atau karya sastra lainnya terdiri dari banyak jenis. Mulai dari majas metafora, personifikasi, simile, hiperbola, ironi, dan masih banyak lagi yang lainnya. Nah, sudah tahu belum pengertian, fungsi, dan contoh masing-masing majas tersebut?
Daftar isi
ToggleJenis-Jenis Majas untuk Puisi dan Karya Sastra Lainnya yang Umum Digunakan
Jika belum, artikel kali ini akan fokus membahasnya secara lengkap mulai dari pengertian, fungsi, jenis-jenis, hingga contoh penggunaan majas dalam karya sastra. Bagi kamu yang hobi menulis puisi atau karya sastra yang lainnya, informasi berikut wajib kamu baca sampai akhir!
Artikel yang sesuai:
Pengertian Majas
Majas adalah sebuah ungkapan, gaya bahasa, atau gaya beretorika yang mampu membuat suasana dalam sebuah kalimat menjadi lebih hidup, lebih indah, dan bermakna mendalam.
Penggunaan majas dalam karya sastra merupakan cara paling menarik untuk meluapkan emosi dengan tenang atau tanpa suara namun tetap dapat dirasakan kedalaman makna dan emosi yang sedang dirasakan.
Sementara itu, Ratna (2009) mendefinisikan bahwa majas adalah ungkapan yang bertujuan untuk menciptakan aspek keindahan dalam sebuah karya sastra.
Menurutnya, keindahan gaya bahasa merupakan unsur pokok dalam sebuah karya sastra. Hal ini dikarenakan kreativitas dan aktivitas penyair yang tergambarkan melalui karya sastranya. Dengan demikian, karya sastra tersebut bisa menjadi genre hasil peradaban manusia.
Fungsi Majas
Nah, setelah memahami apa itu majas, selanjutnya kamu juga perlu tahu apa saja fungsi penting penggunaan majas. Berikut ini fungsi-fungsi majas yang perlu kamu ketahui:
1.Membangun imajinasi
Pertama, majas berfungsi membangun imajinasi pembaca. Hal ini dikarenakan setiap pembaca pada umumnya memiliki pandangan yang berbeda-beda dalam memaknai sebuah puisi.
Perbedaan pandangan ini bisa disebabkan karena cara berpikir, wawasan, atau pengetahuan yang dimiliki setiap orang yang berbeda-beda. Alhasil, kemampuan berimajinasi pembaca juga ikut terpengaruh.
2. Menghidupkan emosi penulis
Penggunaan majas untuk puisi bisa menjadi bentuk luapan emosi dan perasaan penyair melalui rangkaian diksi yang bernilai estetis. Yakni, diksi yang mengandung kiasan, simbol, atau makna tertentu mampu menghidupkan emosi penyair sehingga pembaca ikut tenggelam ke dalam emosi tersebut.
3. Menambah wawasan
Fungsi majas lainnya yaitu menambah wawasan. Meski kadang kala maknanya sulit dipahami, kehadiran majas tetap informatif dan menjadi hiburan yang menarik bagi pembaca.
Untuk bisa memahami makna sebuah puisi, pembaca perlu mencari arti dari majas yang digunakan terlebih dahulu. Dengan demikian, pembaca bisa mendapatkan wawasan terkait arti majas yang sebelumnya tidak diketahui.
4. Memperkuat daya tarik karya sastra
Keindahan dan kedalaman makna yang terkandung di dalam majas mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi sebuah puisi atau karya sastra. Majas dalam puisi juga mampu menjadi ruh bagi puisi sehingga lebih hidup, serta menggambarkan pemikiran atau imajinasi penyair dengan lebih jelas kepada pembaca.
5. Menciptakan makna yang lebih mendalam
Selain daya tariknya yang meningkat, karya sastra yang menggunakan majas juga membuat maknanya lebih mengena dan berkesan. Satu kalimat yang diungkapkan menggunakan kata-kata sebenarnya tentu memiliki nilai estetika yang berbeda dengan kalimat yang menggunakan majas.
6. Menciptakan kedekatan emosional dengan pembaca
Fungsi majas lainnya di dalam puisi maupun karya sastra yang lain yaitu mampu menciptakan kedekatan emosional dengan membaca. Melalui majas, pembaca bisa lebih mudah untuk memahami atau merasakan apa yang sedang dialami oleh penulis.
7. Memicu euforia bagi pembaca
Terakhir, majas juga berfungsi untuk menciptakan euforia atau kebahagiaan bagi pembaca. Mengapa demikian? Sebab, penggunaan majas mampu membuat kata-kata sederhana menjadi lebih indah dan berkesan. Alhasil, akan ada sensasi kesenangan tersendiri yang dirasakan oleh pembaca.
Jenis-Jenis Majas dan Contohnya

Nah, sekarang kamu sudah tahu kan apa itu majas dan fungsinya dalam sebuah puisi atau karya sastra? Sekarang, yuk kita pelajari apa saja jenis majas yang bisa digunakan untuk membuat puisi atau karya sastra yang kamu tulis menjadi lebih estetik dan berkesan beserta contohnya!
Majas penegasan
Jenis majas untuk puisi dan karya sastra lainnya yang pertama adalah majas penegasan. Majas penegasan terbagi kembali menjadi 10 jenis, yaitu:
1. Majas hiperbola
Majas hiperbola adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menggambarkan sesuatu secara berlebihan. Sebagai contoh: Suara merdunya mampu memecah keheningan malam, apalah gayaku yang hanya butiran debu ini.
2. Majas litotes
Majas litotes adalah gaya bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu agar terkesan merendah. Misalnya: Terimalah hadiah dariku yang tak seberapa ini.
3. Majas pleonasme
Majas pleonasme adalah gaya bahasa yang digunakan untuk memperjelas maksud dari kata yang mendahuluinya. Contohnya: Aku siap maju ke depan untuk memperjuangkan keadilan.
4. Majas repetisi
Seperti namanya, majas repetisi adalah gaya bahasa yang mengulang kata-kata tertentu seperti yang sudah diucapkan sebelumnya. Misalnya: Jangan khawatir! Selagi aku masih bernapas, selagi aku masih bisa berdiri tegak, selagi kakiku masih berpijak di bumi ini, keadilan akan terus kuperjuangkan.
5. Majas klimaks
Majas klimaks adalah gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu secara berturut-turut hingga semakin memuncak. Contoh: Jangankan sehari, seminggu, sebulan, setahun, bahkan selamanya pun aku tak apa.
6. Majas antiklimaks
Kebalikan dari klimaks, antiklimaks adalah gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu secara berturut-turut dan lama kelamaan semakin menurun. Misalnya: Apalagi seratus ribu, lima puluh, sepuluh, lima ribu, bahkan seribu rupiah pun dia tak mau membayarnya.
7. Majas asidenton
Majas asidenton adalah gaya bahasa yang menguraikan beberapa hal tanpa menggunakan kata penghubung. Contohnya: Tinggi, pendek, gemuk, kurus, hitam, putih, semuanya berhak memperoleh fasilitas yang sama.
8. Majas polisindenton
Kebalikan dari asidenton, majas polisindenton merupakan gaya bahasa yang menguraikan beberapa hal dengan menggunakan kata penghubung atau konjungsi. Contoh: Sebelum berangkat bekerja, ayahku sarapan dan minum kopi, lalu berbincang sejenak dengan ibuku di ruang tamu.
9. Majas interupsi
Majas interupsi adalah gaya bahasa yang menyisipkan kata atau frasa tertentu di tengah kalimat supaya maksud yang disampaikan lebih jelas. Sebagai contoh: Bu Aini-Kepala Sekolah yang baru dipindah tugaskan itu terkenal sangat ramah.
10. Majas koreksio
Majas koreksio adalah gaya bahasa yang menggunakan cara menarik untuk mengoreksi atau memperbaiki sesuatu yang salah. Contohnya antara lain: Besok pagi … oh maaf besok sore kita akan mengadakan rapat secara online.
Majas perbandingan
Majas untuk puisi berikutnya yaitu majas perbandingan. Majas perbandingan terbagi menjadi enam jenis, yaitu sebagai berikut:
1. Majas personifikasi
Majas personifikasi adalah gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu tentang benda mati yang seolah-olah memiliki sifat seperti manusia. Misalnya: Seluruh tubuhnya basah dilahap air hujan.
2. Majas metafora
Majas metafora adalah gaya bahasa yang membandingkan suatu benda dengan benda lainnya secara langsung, biasanya menggunakan kata bak, seperti, dan bagaikan. Sebagai contoh: Senyummu bagaikan embun di pagi hari yang menyejukkan.
3. Majas metonimia
Majas metonimia adalah gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu menggunakan merek dagangnya. Misalnya: Aku memasak Indomie kemarin malam.
4. Majas tropen
Majas tropen adalah gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu menggunakan kata yang tepat atau sejajar dengan sesuatu yang dimaksud. Contohnya: Dia begitu lihai ketika meluncur menggunakan skateboard kesayangannya.
5. Majas sinekdoke
Majas sinekdoke terbagi kembali menjadi dua jenis, yaitu:
- Pars prototo: Gaya bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu secara keseluruhan dengan cara menyebutkannya sebagian. Contoh: Sejak tadi pagi batang hidungnya belum terlihat sama sekali.
- Totem proparte: Gaya bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan sebagian dengan cara menyebutkan seluruhnya. Contoh: Tadi malam Indonesia bisa mengalahkan Thailand dengan skor 2-1.
6. Majas eufisme
Majas eufisme adalah gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu dengan kata yang halus agar terkesan lebih sopan. Contoh: Sejak diceraikan suaminya, sekarang wanita itu mengalami gangguan mental (gila).
Majas sindiran
Majas untuk puisi lainnya yaitu majas sindiran yang terbagi menjadi empat jenis, antara lain:
1. Majas ironi
Majas ironi adalah gaya bahasa yang menggunakan sindiran paling halus hingga membuat pihak yang disindir tidak menyadarinya. Biasanya, kata yang digunakan untuk menyindir juga berkebalikan dari sindiran yang dimaksud. Contohnya: Tepat waktu sekali kau datang ke sini (maksud sebenarnya adalah sangat terlambat).
2. Majas sarkasme
Majas sarkasme adalah gaya bahasa yang mengandung sindiran paling kasar sehingga menyebabkan pihak yang disindir merasa tersakiti. Contoh: Dasar pelacur! Berani-beraninya kau merusak rumah tangga orang lain!
3. Majas sinisme
Majas sinisme adalah gaya bahasa yang mengandung sindiran agak kasar. Misalnya: Semoga dengan malas belajar kamu bisa lulus dengan nilai yang memuaskan.
4. Majas alusio
Majas alusio adalah gaya bahasa yang mengandung sindiran berbentuk ungkapan atau peribahasa yang umum digunakan. Contohnya: Kamu ini senang kura-kura dalam perahu, bukanlah sudah gaharu cendana pula. (pura-pura tidak tahu, bertanya pula)
Majas pertentangan
Selanjutnya, jenis majas untuk puisi atau karya sastra lainnya yang umum digunakan ada majas pertentangan. Majas pertentangan terbagi kembali menjadi dua jenis, antara lain:
1. Majas paradoks
Majas paradoks adalah gaya bahasa pertentangan yang ternyata jika diteliti tidak ada pertentangan di dalamnya. Sebagai contoh: Orang itu sangat pendiam di depan orang asing, tetapi sangat banyak bicara di depan sahabatnya.
2. Majas antitesis
Majas antitesis adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata bertentangan atau berlawanan dengan maknanya. Contoh: Besar-kecil atau banyak-sedikitnya rezeki yang Tuhan berikan patut kita syukuri.
Itulah tadi berbagai macam jenis gaya bahasa atau majas untuk puisi, cerpen, dan karya sastra lainnya yang umum digunakan. Menggunakan majas dalam puisi, cerpen, novel, atau karya sastra lainnya merupakan cara terbaik untuk mengungkapkan sesuatu dengan lebih indah, emosional, dan penuh makna. Nah, dari sekian banyaknya jenis-jenis majas di atas, manakah yang sering kamu gunakan?





