
Teenlit merupakan akronim dari teen literature atau sastra remaja yang menyoroti dunia anak muda beserta segala problemnya. Genre novel ini sangat pas dibaca oleh para remaja yang menginjak usia 12 sampai 18 tahun. Namun, pembaca dewasa juga bisa menikmati genre cerita ini sambil bernostalgia dan mengenang kembali masa-masa sekolah.
Selain kisah cinta, novel teenlit juga memiliki berbagai macam cerita mulai dari keseharian di sekolah, dinamika keluarga, hingga mimpi-mimpi besar tentang masa depan. Mungkin di antara kita banyak yang bertanya-tanya, apa saja tips menulis novel teenlit yang bisa diterapkan untuk menciptakan kisah remaja yang memikat?
Daftar isi
Toggle6 Tips Menulis Novel Teenlit yang Perlu Diterapkan
Melalui artikel ini, kita akan menggali berbagai tips ampuh dalam menyusun novel teenlit yang bisa dipraktikkan langsung oleh penulis, terutama yang baru berkecimpung di dunia literasi. Tidak perlu menunggu lama, berikut adalah penjelasan lengkapnya:
Artikel yang sesuai:
1. Memakai Gaya Bahasa Khas Remaja
Tips menulis novel teenlit yang pertama yaitu berkaitan dengan gaya bahasa dan kosakata yang digunakan. Penulis harus memilih diksi yang akrab di telinga anak muda zaman sekarang. Kata-kata yang terlalu formal atau baku akan membuat cerita terkesan tidak relevan dengan remaja dan gampang menimbulkan rasa bosan.
Pemakaian bahasa gaul atau istilah yang sedang digandrungi oleh remaja sangat penting untuk memperkuat karakter setiap tokoh di dalamnya. Dialog-dialog yang terangkai juga akan terasa alami layaknya di kehidupan nyata, sehingga pembaca bisa lebih mudah terhanyut dalam cerita. Tokoh remaja yang penulis ciptakan pun akan tampak hidup, bukan seperti orang dewasa yang dituntut menjadi muda.
Namun, penulis harus bisa memastikan bahwa penggunaan gaya bahasa ini tetap profesional dan tidak berlebihan. Gaya bahasa yang sesuai dengan tema dan target pembaca akan membuat emosi, humor, dan konflik pada novel terasa lebih berkesan.
2. Melaksanakan Riset secara Mendalam
Salah satu tips agar novel teetlit yang penulis susun dapat memikat hati pembaca adalah melakukan riset secara mendalam mengenai dunia remaja saat ini. Imajinasi bukanlah satu-satu modal dalam menulis genre karya sastra ini.
Penulis harus mencari tahu apa saja topik hangat yang menjadi perbincangan mereka, mulai dari persoalan sekolah, drama pertemanan, sampai dunia percintaan masa kini. Selain itu, penulis juga perlu mengamati kendaraan yang sering mereka pakai untuk bepergian, sistem sekolah sekarang, hobi/olahraga populer, hingga tongkrongan dan makanannya. Jangan sampai penulis mengisahkan cerita tahun saat ini tapi suasana yang terbangun seperti era sepuluh tahun yang lalu.
Tujuan utama dari pelaksanaan riset ini yakni agar penulis dapat menghasilkan cerita yang terasa dekat dengan kehidupan remaja. Mereka akan semakin terhubung dan merekomendasikan karya penulis kepada teman-teman terdekat.
3. Merancang Karakter Tokoh yang Sesuai
Aspek yang tidak boleh penulis lewatkan ketika menulis novel teenlit adalah menciptakan tokoh yang menggambarkan anak muda sekarang. Pada umumnya, remaja sangat menyukai tokoh yang memiliki visual atau berpenampilan menarik khas anak sekolah. Oleh karena itu, jangan ragu untuk mendeskripsikan gaya berpakaian para tokoh secara detail, mulai dari model rambut, tas, hingga sepatu yang digunakan.
Di samping penampilan fisik, pemilih nama tokoh juga sangat berpengaruh pada kesan pertama dan identitas genre cerita. Penulis dapat menggunakan nama-nama yang terdengar modern dan ramah di telinga anak muda zaman sekarang. Dengan kata lain, jangan memberi nama tokoh-tokoh dalam novel teenlit yang terkesan kuno kecuali untuk alasan khusus.
Tips ketiga ini juga berkaitan dengan penggambaran kepribadian setiap tokoh secara konsisten lewat narasi dan dialog. Misalnya, tokoh utama merupakan anak OSIS, maka karakternya bisa digambarkan sebagai siswa yang memiliki jiwa kepemimpinan, percaya diri, aktif di kegiatan sekolah, dan populer di sekolah. Karakter yang kuat akan membuat pembaca jatuh hati dan terus teringat pada tokoh tersebut.
4. Menyisipkan Adegan Romantis Khas Remaja

Dunia remaja tidak bisa kita pisahkan dari warna-warni hubungan asmara. Penulis wajib memasukkan adegan atau dialog romantis ala anak sekolah yang menggemaskan dan mampu membuat pembaca menyunggingkan senyum manis. Caranya mudah, yaitu dengan mengingat kembali momen-momen indah atau cinta monyet yang pernah penulis alami di bangku SMA.
Agar suasana yang tercipta semakin romantis, penulis disarankan untuk membaca banyak literatur, menonton film romantis, atau mempelajari tips menulis adegan romansa yang mendebarkan. Cermati bagaimana cara membangun chemistry antartokoh lewat pandangan mata, perhatian kecil, atau dialog-dialog sederhana.
Hal yang terpenting dari tips menulis novel teenlit yang keempat ini adalah menyesuaikan gaya pacaran atau pendekatan dengan tren remaja sekarang. Maka dari itu, penulis harus rajin menjelajahi media sosial demi menemukan gaya romantis yang tidak ketinggalan zaman.
5. Mengembangkan Ide Cerita Ringan dan Relatable
Ketika menulis novel teenlit, penulis tidak perlu pusing memikirkan kondisi sosial yang berat atau konflik politik yang tidak kunjung usai. Cerita ringan, sederhana, namun sangat lekat dengan apa yang remaja rasakan sehari-hari bisa menjadi pilihan yang tepat. Fokus pada dinamika kehidupan yang biasa mereka alami, buka situasi yang berada di luar kendali mereka.
Contoh topik yang bisa penulis kembangankan menjadi cerita khas remaja yaitu tentang perjuangan menghadapi ujian sekolah, persaingan mendapatkan beasiswa, perasaan minder dalam pergaulan, atau dilema memilih jurusan kuliah. Masalah-masalah seperti ini yang justru sangat terikat dengan pembaca pembaca karena merasa melihat cerminan diri sendiri di dalam buku.
Topik atau ide yang ringan juga membuat alur cerita dalam novel teenlit mengalir lebih santai dan menjadi penghibur di waktu senggang. Menulis konflik yang sering dilalui oleh remaja dengan jujur dan bersahaja membuat tulisan kita mendapatkan tempat spesial di hati pembaca.
6. Memasukkan Pesan Moral
Walaupun novel teenlit memiliki fungsi utama untuk menghibur, penulis tidak boleh lupa untuk memasukkan nilai-nilai positif atau pesan moral di dalamnya. Cerita yang bagus adalah kisah yang tidak hanya menarik saat dibaca, tapi juga meninggalkan dampak yang luar biasa. Pesan moral yang penulis sisipkan dapat menjadi sarana edukasi bagi pembaca berusia belia.
Cara paling gampang untuk menuturkan pesan ini yaitu melalui perilaku atau sikap tokoh utama. Misalnya, bagaimana tindakan tokoh tersebut dalam menghadapi masalah secara bijak, bangkit dari keterpurukan, hingga menyesali perbuatan dan belajar meminta maaf saat melakukan kesalahan. Secara tidak langsung pembaca akan belajar nilai kebaikan dari perkembangan karakter di dalam novel.
Selain dari sudut pandang tokoh utama, penulis juga dapat menyisipkan pola pikir positif dan optimistis lewat lingkungan sekitar, seperti dukungan keluarga atau nasihat dari guru. Menunjukkan bagaimana lingkungan yang sehat membantu remaja dalam mengatasi masalah akan memberikan contoh yang baik di mata pembaca.
Nah, itulah uraian lengkap dan mendalam mengenai beberapa tips menulis novel teenlit atau sastra remaja yang bisa penulis terapkan. Semoga setelah membaca artikel ini, teman-teman memperoleh inspirasi dan motivasi untuk menciptakan karya tulis bertemakan kisah remaja yang berkualitas, ya!





